Sabtu, 04 Maret 2017

Kita flashback sejenak ya

Duluu...
Ketika lulus SMA dan ikut SPMB bareng 4 orang teman 1 geng lainnya (masih zaman ngegeng)πŸ˜… entah kenapa saya memilih IPC (ilmu pengetahuan campuran: bisa milih 3 jurusan) padahal saat itu gak sama sekali tertarik sama IPS.

Jadinya pada saat milih jurusan IPS bingung mau milih apaπŸ˜‚ *saya aneh ya
Akhirnya nanya sama temen

"Ri...IPS gw bingung milih apaan"

"Akutansi aja"

"Ah....males ngitungin uang dalam khanyalan"😢*gaya

"Ya udah...pendidikan guru sekolah luar biasa aja"

"Idih...apaan tuh? Guru SLB gitu? Gak mau ah jadi guru SLB"

"Kata kaka gw gajinya gede" *πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚nangis kalo ngomongin ini deh

"Masa sih?"

"Iyaa...lagian lw pasti udah mentok di pilihan ke 1 Na. Biar cepet penuh aja tuh isian biar cepet pulang kita"

"Oke deh"

Dapet deh 3 pilihan jurusan
1. Matematika
2. Kimia
3. PGSLB (waktu itu namanya masih ini di buku SPMB)

Ujian udah ngikut
Dateng deh hari pengumuman
Karna dulu tinggal di kampung
Jadi buat liat pengumuman harus beli koran ke pasar yang jaraknya lumayan jauh. Jalan kaki 750 m (kurang lebih) terus naik angkot 3.5 KM.
Udah beli korannya
Gak sabar mau liat kira2 keterima apa ngga sampe baca dijalan dan titabrak sama becak. Udah saki5 diomelin pula sama abang becak
Tapi emang saya yang salah.

Ya udah nyarinya dirumah aja.
Ternyata nama saya ada disitu "lolos pilihan ke 1"

Wuiihhh...seneng bukan main rasanya
'Matematika'
Eh ternyata bukanπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ malah kedaftar di "PLB"

Lhoo..perasaan nulis kode yang ke 1 tuh matematika kenapa nyasar ke PLB?

Saat itu juga jadi sedih
Nelpon mama sambil nahan nangis

"Mah..nana keterima SPMB tapi jurusan PLB"
Hiks..hiks..
Dulu tuh serasa dunia runtuh (bahasanya)πŸ˜‚
Sedih bukan main
PLB tuh apa
Kebayang jadi guru SLB ngelapin iler anaknya
Nyebokin anaknya
Aduuhh..😱😱😱😱 enek nya bukan main ngebayanginnya.

Tadinya gak mau diambil
Tadinya milih buat gak kuliah dulu
Tahun depan nyoba lagi

Tapi mama bilang sayang waktu 1 tahunnya
Terus dikuatin juga kalo ternyata bisa kok pindah ke jurusan lain setelah 1 tahun kalau IPK  nya diatas 3

Ya udah akhirnya masuk
Dengan diboongin sama kaka kelas waktu itu katanya jurusan PLB bisa jadi psikologi (bodoh banget deh ini jelas salah besar), bisa jadi psikiater (wkwkwkwkkwk....ngakak tenan).

Dalih pengen dapet IPK gede biar bisa pindah jadilah belajar rajin yaa...tapii ini yang bikin berubah, tenyata yang aku pikir

'Aah...palingan guru SLB mata kuliahny gampang-gampang'

Ternyata pas liat daftar mata kuliahnya 'bengong'

Psikiatri
Pediatri
Neuroanatomi

Hah? Belajar ini juga?
Berat juga yaa...kirain mata kuliahnya bakalan gampang banget😡 ternyata oh ternyata

Awal-awal liat pertunjukkan anak-anak special ini pasti nangis bercucuran air mata, karna pikiran awal 'anak ini gak bisa apa-apa', 'kasian' segala rasa simpati duluuu

Makin dipelajarin makin asik ternyata
Makin di dalami makin kepincut sm anak-anaknya

Dan..
Semeter 2 memberanikan diri buat ngajar karna
Dpt sentilan dari kaka tingkat

"Lo..gak akan dapet apa-apa kalo cuma ngafalin teori, emangnya lo pikir saat nanti lo ngajar lo akan bilang 'eh anak autis..menurut DSM IV lo itu bla..bla..bla...guru itu lebih butuh banyak pengalaman Han, anak yang lo hadapi itu yang bakal jadi guru lo dan sumber ilmu. Akan beda lo yang setelah lulus dengan pengalaman or tanpa pengalaman apapun"

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Dan ternyata apa yang dikasih tau ini bener adanya. Walau jadi kuper di kampus, soalnya kalo gak ada kuliah, gak ada dosen, yaa udah kabur keluar....

Eh tapi jurusan yang dulunya nangis-nangis pas tau lolos, malah jadi passion skrg. Yang dulunya kebayang enek "pegang kotoran, muntah, iler, dll" biasa aja sih sekarang.

Semua gak ada yang kebetulan
Semuanya pasti sudah ada garisnya
Tapi
Doa tanpa usaha ya sia-sia
Usaha tanpa doa namanya sombong

Berusaha menjalani ini dengan sebaik mungkin hanya berharap ridhoNya.

Kalo kata abang 'sukses itu bukan karna profesinya, tapi sukses itu karna gimana kamu ngejalaninnya, se'totalitas' apa kamu berusaha menghadirkan yang terbaik bagi orang banyak dari profesi kamu'😍😍😍😍😍

Jumat, 03 Maret 2017

Autisme
Satu kata banyak makna

Satu kata ini, bisa berbagai makna didalamnya
Satu kata, namun sangat berbeda satu dengan yang lain.

Seringkali aku dengar dokter mendiagnosa anak-anak special ini dengan kata 'autisme' seringkali juga aku temui berbedaan-perbedaan diantara mereka.

Diagnosanya sama tapi berbeda
Apa yang berbeda?
Sikapnya jelas
Habbitnya
Perilakunya
Karakteristiknya
Terlebih ke penanganannya

Ada buku yang mutlak menjelaskan bagaimana cara menangani autisme? Jawabnya belum ada.

Lalu...darimana guru-guru itu bisa menangani anak autisme?
Dengan ilmu dan pengalaman tentunya
Ilmu umum, ilmu tentang metode-metode pembelajaran, teknik pembelajaran, teori-teori pembelajaran, ilmu pendidikan anak, psikologi, dll

Semua diaplikasi
Semua dijadiin satu
Semua disambungin kalau memang bisa nyambung
Dan semua diterapkan

Jadi anak saya jadi kelinci percobaan donk?
Tentu tidak mah...pah...
Tapi tujuan guru adalah mencari yang cocok dan bisa membantu anak mama papa agar lebih baik tentunya dengan melakukan asessment terlebih dahulu. Jadi anak mama papa bukan jadi kelinci percobaan tapi jadi bahan pembelajaran.
Untuk siapa?
Untuk gurunya agar pengalamannya bertambah dan ilmunya juga bertambah.
Untuk orangtuanya agar mau juga mempelajari ilmu-ilmu pendidikan dan lain-lainnya
Untuk anaknya agar bisa menjadi lebih baik lagi

Dengan pengalaman
Semakin guru tersebut menangani banyak anak, semakin bertambah juga ilmunya?
Oh iya?
Iyaa...tentunya bagi guru yang mau belajar yaa.
Setiap anak pasti beda penanganannya
Jadi kalau guru itu menangani 1 anak maka ilmunya hanya 1 anak itu saja.
Semakin bertambah ilmunya semakin nambah
Makanya guru yang udah banyak nanganin anak akan berbeda dengan guru yang baru nanganin 1 anak atau bahkan belum nanganin 1 anakpun. Karna kenyataan menghadapi anak ini tak semudah menghafalkan teori "apa itu autisme?" "Apa karakterisktik autisma?" "Pemgertian autisme menurut DSM IV?" Dll.
Beda apanya?
Beda ilmunya tentunya

Makanya bagi saya yang terpenting dari seorang guru adalah "dia mau belajar dari segala hal".


Minggu, 26 Februari 2017

Z ku yang lama

Z...
Begitu memanggilnya
Takdir mempertemukan aku kembali dengan Z.
Z ku yang dulu gendut, lucu dan bersuara imut kini menjelma menjadi anak laki-laki berperawakan tinggi, kurus dan suaranya yang ngebass pertanda Z ku kini sudah beranjak remaja.

Pertemuan setelah 5 tahun berlalu
Banyak kisah yang sudah terjadi dengan Z ku. Sampai akhirnya ibunya meminta aku kembali untuk les privat Z di hari selasa dan kamis, cerita demi cerita disampaikan oleh ibunya kepadaku. Betapa tingkah Z sudah sangat keterlaluan kepada orangtuanya, Z berani memukul, membentak, berteriak, marah-marah, merusak barang yang ada dirumah (piano, Tv, jam besar, laptop,dll). Bahkan yang lebih menyesakkan hati lagi Z berani mengatai ayahnya sendiri dengan sebutan 'a*j*ng', 'l*nt*'.

Z ku memang special dari sejak 5 tahun lalu aku mengenalnya, dulupun emosi Z sudah terlihat dominan, tapi bs diredam dan memang karna waktu itu Z masih anak kelas 2 SD, maka aku rasa penanganan behaviour nya sudah selesai. Z tak lagi merebut ayunan temannya, Z tak lagi berlari kencang dan tak peduli menabrak siapapun dan apapun, Z yang jahil dikelas dan suka marah-marah dan merusak barang teman-temannya dikelas, Z yang tidak pernah tertib sholat dimasjid. Hal ini sudah terlihat dr pertemuan pertama kali, dengan berjalannya waktu sikap negatif itu mampu diminimalisir dan akupun mengundurkan diri dari Z karena aku rasa tugasku sudah selesai.

Tapi

Takdir mempertemukan kita kembali dengan deskripsi emosi Z yang lebih dari sebelumnya, efek menuju remajakah? Yaa bia jadi.....

Usia Z saat ini 14 tahun
Awalnya aku hanya datang per2jam selama 2x dalam seminggu. Kejadian demi kejadian terjadi sampai pada titik "menyerahnya" seorang ibu kepada anaknya. Beliau tidak tau lagi harus berbuat apa dan bagaimana, didepan aku beliau menangis menceritakan sikap Z. Keputusanpun dibuat dengan aku tinggal dengan Z berdua di rumahnya yang lama (hanya berdua).

Diskusi dengan suami, beliau mengijinkan dan dengan restu beliau aku tinggal berdua dengan Z.

Hari pertama berlangsung damai walau memang sering ada penolakan dari Z terhadap segala perintah, aku masih beradaptasi dengan anak ini tentang sikap dan sifatnya. Satu yang didapati adalah anak ini cerdik luar biasa dan egonya tinggi. Z sering tidak mau kalah meski dia salah.

Dan...
Hari keduapun dimulai
Aku tidak lagi mengikuti alur Z
Tapi kini aku yang membuat alur untuk Z
Z tentu tidak menerima ini semua
Namun aku paksakan
Misalnya bangun jam 5.00 dll
Selesai mandi bawa pakaian kotornya ke keranjang pakaian, dan bla..bla..bla

Banyak peraturan yang aku buat
Karna polanya memang harus dibentuk tidak lagi 'dia yang menjadi raja' tapi 'kita bekerjasama"

Hari kedua seperti kemarin Z bangun jam 5 pagi, mengerjakan ritual sholat subuh dan ngaji. Setelahnya kita lari pagi keliling komplek, sambil ke pasar untuk berbelanja, sepulang itu Z mandi dan kita masak bersama. Setelah makan, peraturannya memang Z harus mencuci piring bekas makannya, namun Z menolak.

"Capek bu"

"Oh ya sudah kalau cuci piring cape, sekarang kamu naik turun tangga 10 kali"

"Ngga mau"

"Tidak ada penolakan Z, bu hana hitung sampai 5. Cepet!"

"Ti..dak mau" sambil berteriak

Segera aku ambil tangannya, membawa Z ke arah tangga. Tapi Z mendorong aku, dan ia berlari kearah luar rumah sambil berteriak

"Tolong pak...tolong...saya dianiaya pak. Tangkap bu hana pak, bu hana jahat"

"Zikra masuk ke dalam" perintahku dengan nada tegas

"Tolong pak..nih pak dia nyuruh nyuruh saya nih"

Dengan paksa aku tarik Z untuk masuk ke kamar dan aku kunci. Didalam kamar Z tak hentinya berteriak, bahkan Hp ku yang berada di atas meja dibanting kelantai oleh Z. Melihat kejadian itu aku langsung mencari flashdisk milik Z, dan aku perlihatkan di depan wajahnya

"Kamu banting Hp bu hana kan? Skrg bu hana banting flashdisk kamu ya"

"Jangan...tidak...jangan banting barang aku"
Sambil berusaha merebut flashdisk yang aku pegang. Dipeganginya tanganku dan dia berusaha merebut flasdisk tersebut, bersitegang terjadi disitu akupun tidak mau kalah disini. Kesempatan ini aku pakai untuk mengalahkan egonya, Z terus menerus menarik tali flashdisk yang aku pegang, seketika aku tarik falshdisknya membuat tali flashdisk Z terlepas tidak sampai disitu, pergulatan terus terjadi Z tetap tidak mau kalah dengan terus menerus berusaha mengambil flashdisk ditanganku.

Tepat setelah 20 menit terjadi, Z tiba-tiba memukul lenganku. Pukulan yang membuat nyeri dan merah lebam, ku tarik kerah bajunya dan aku tekannya padanya

"Bu hana tidak suka di pukul, dipukul itu sakit, tidak ada orang yang mau dipukul. Sekali lagi kamu pukul bu hana, bu hana pukul kamu ya" dengan nada tegas dan marah

Berbicara seperti ini untuk menegaskan kepada Z bahwa tidak ada orang yang mau dipukul. Dan perbuatan nya itu salah

"Aaaahhh...jangan atur aku. Aku tidak suka diatur, jangan marahi aku bu hana..aku tidak suka" dan Z pun memukul aku lagi.

"Oh..kamu mukul bu hana lagi ya? Oke..bu hana pukul ya kamu, kamu mau dipukul?"

"Tidak..jangan pukul aku"

"Kalau kamu memukul, kamu jg harus mau dipukul"

Dan pukulanpun aku tunjukan ke lengan atasnya. Tentunya bukan untuk meyakiti maupun balas dendam hanya bersifat pembelajaran, pukulan ini pun tidak membekas.

"Jangan pukul aku..aku tidak suka" seketika Z mengambil pulpen yang ada di bawah dan langsung diarahkannya ke tanganku

'Jleeb' pulpen tepat menancap di telapak tangan sebelah kiri bagian dalam, darah segarpun mengalir dari telapak tanganku.

"Syukurin...biarin mati aja kamu" melihat itu Z malah menyumpahi aku sambil menujuk-nunjuk wajahku.

"Cepat....kembalikan flashdisk aku...cepat...atau aku tusuk lagi kamu"

"Tidak mau..minta baik-baik, baru bu hana kasih ke kamu"

"Tidak ada baik-baik..aku tidak mau"

"Ya sudah kalau tidak mau bu hana tidak akan berikan"

"Aku tusuk kamu"

Tusukan keduapun diarahkan kali ini aku berhasil mengelak namun masih tepat kena di pergelangan tangan sebelah kanan berupa sayatan panjang.

Rasa sakit tak kurasakan,yang ada dipikiranku saat ini adalah hari ini harus berhasil karna kalau sampai tidak berhasil keesokan harinya Z akan lebih ganas dari hari ini.

Tak sampai disitu, Z terus menerus berusaha merebut flashdisk dari tanganku dengan sesekali dipukulnya aku, di jambak rambutku sampai dan mengatai aku dengan kata-kata kasar 'bu hana lo*te', 'bu hana p*la*ur', 'bu hana a*j*ng' dll

Teriakan demi teriakan pun dia keluarkan, sampai para tetangga dan pak Rt pun datang menanyakan ada apa. Aku buka pintu dan aku bilang pada mereka.

"Maaf pak..ini sedang terapi"

merekapun memahami dan segera berlalu.

Setelah para tetangga dan pak RT pulang aku kembali ke dalam rumah, melanjutkan sesi dengan Z. Sikap Z masih berteriak-berteriak dan tidak mau mengalah, perebutanpun kembali terjadi. Akupun tetap bertahan karna ini harus sampai
selesai hari ini juga, sayang kalau sampai tidak selesai padahal tangan dan Hpku sudah menjadi korban.

Tak terasa sudah adzan dzuhur, pergulatan demi pergulatan terjadi, pukulan demi pukulan, cacian demi cacian dan teriakan di lontarkan. Berisik? Tentu..sangat berisik. Sampai akhirnya Z mengeluh "sudah donk bu hana, mau sampai kapan sih"

"Kamu yang sudah...bilang baik-baik baru bu hana kasih flashdisk kamu"

"Aku minta flashdisk" dengan berteriak

"Tidak berteriak mintanya yang baik, bu hana Z minta flashdisknya"

"Bu hana, aku minta flashdisk"

"Good..ini bu hana kasih flashdisk nya karna kamu sudah minta dengan baik."

Flashdisk yang aku berikan langsung diambil oleh Z dan dia segera berlalu menuju kamar.

"Z..ucapkan apa kalau di kasih sesuatu"

"Terima kasih"

Bayangkan dari jam 8 sampai dengan jam 12 ini terjadi,tidakah aku merasa capek? Jawabannya tentu saja merasa cape, tapi aku pikir hari ini jg harus selesai. Karna moment nya sangat pas disaat memang perilaku Z sedang emosi dan egonya sedang tinggi-tingginya.

Kenapa tidak mau mengalah?
Karna jika aku mengalah, maka sama artinya dengan membiarkan Z menang dan tandanya aku kalah dimata Z maka Z akan bertindak semaunya terhadapku.

Sifat yang dimiliki anak autisme kebanyakan "manipulatif" dan "bossy", jangan kira mereka bodoh. Mereka sangat amat pintar sebetulnya, namun sifat manipulatifnya itu yang membuat terkesan dia tidak berdaya dan sifat bossynya yang seolah dia adalah boss yang membuat ia bersikap semaunya sendiri dan seolah dia menjadi raja yang lain harus ikut aturannya atau yang lain tidak boleh mengaturnya.

Setelahnya baru aku pergi ke rumah sakit bersama Z untuk mengecek lukaku, 5 jahitan untuk tangan sebelah kanan dan 6 jahitan untuk telapak tangan sebelah kiriku. Mulai dari situpun badanku rasanya remuk redam dan sakit sekujur badan?. Dokter mempertanyakan kenapa bisa begini, maka aku jawab bahwa sedang terapi anak berkebutuhan khusus. Dan Z pun diperiksa oleh dokter.

Z bagaimana?Z tidak menderita apapun. Lecetpun tidak. Badannya sakitkah? Tidak. Tapi tenaganya juga cukup terkuras akibat kejadian itu. Sepulang dari rumah sakit akupun istirahat dan Z juga istirahat dikamarnya, tak selang 5 menit Z sudah tertidur lelap.

Setelah kejadian ini pun bukan berarti Z langsung bersikap baik dan patuh, perlawanan masih dilakukan dan egonya masih belum menerima bahwa ia telah kalah. Z tak mau berbicara padaku, Z tak mau aku sentuh, setiap aku sentuh maka ia akan segera mengelapnya atau menjauhkan tanganku seolah itu adalah kotoran. Bersikap kasarkah lagi? Tidak. Kali ini pendekatannya lebih persuasif dalam artian aku berusaha mendekatkan diri ke Z dengan mengajaknya ngobrol atau bercanda. Awalnya Z menolak, namun aku membelikan Z 1 porsi makanan kesukaannya dan mengajak Z makan, seketika Z luluh, mau makan dan aku mulai mengajaknya bercanda, mengobrol tentang berbagai hal mengenai dunia presenter karna Z sangat suka dan memang bercita-cita menjadi presenter.

Setelah kejadian itu fase colling down untuk Z, aku mengajaknya berbicara tentang kejadian kemarin.

"Kemarin kenapa kamu marah sama bu hana?"

"Karna aku tidak suka disuruh-suruh"

"Memangnya bu hana menyuruh kamu apa?"

"Mencuci piring"

"Mencuci piring bekas siapa?"

"Aku"

"Pas kamu Mengambil piring itu dalam keadaan kotor atau bersih?"

"Bersih"

"Nah..kan? Kalau kamu mengambil piring itu dalam keadaan bersih maka kamu harus mengembalikannya dalam keadaan bersih juga. Kan sudah bu hana kasih tau peraturan diawal kalau kamu harus mengembalikan sesuatu ke tempatnya dan mengembalikan dalam keadaan seperti semula"

"Aku tidak suka bu hana ikutan marah. Bu hana tidak boleh marah, aku saja yang marah"

"Sekarang coba kamu inget, kenapa bu hana marah?"

"Karna aku banting Hp bu hana"

"Itu kamu tau sendiri kan, salah tidak banting Hp bu hana?"

"Salah"

"Kenapa kamu lakuin?"

"Aku tidak mau turun naik tangga"

"Kenapa kamu bu hana minta naik turun tangga"

"Tidak tau"

"Karna kamu tidak mau mencuci piring kamu sendiri dengan alasan capek, makanya bu hana suruh naik turun tangga. Biar kamu tau lebih cape mana cuci piring atau turun naik tangga?"

"Tapi bu hana jangan nyuruh aku..aku tidaj suka diatur, aku aja yang ngatur"

"Kamu guru disini? Yang jadi guru itu siapa? Kamu atau bu hana?"

"Aku"

"Oh...oke. kalau begitu bu hana panggil kamu 'pak zikra' ya"

"Tidak...tidak...aku bukan guru.  Bu hana yang guru"

"Kalau kamu murid pantas tidak murid memukul gurunya"

"Tidak"

"Pantas tidak murid marah-marah, ngatain gurunya pakai bahasa kotor?"

"Tidak"

"Jadi besok kamu ulangi lagi ya kejadian kemarin?"

"Tidak mau"

"Terus aja bersikap semau kamu sendiri. Kalau kamu masih bersikap seperti itu maka bu hana juga akan bersikap semau bu hana"

"Jangan...tidak...aku saja yang bersikap semaunya"

"Oh tidak bisa, sebab bu hana gurunya disini bukan kamu. Kamu tidak bisa mengatur-ngatur siapapun karna sikap kamu sangat jelek. Kamu memaki, kamu merusak barang, kamu membentak, kamu memukul, kejadian kemarin bisa aja bu hana laporin ke polisi karna kamu sudah menusuk tangan bu hana. Ayo kita ke polisi sekarang"

"Tidak mau"

"Sekali lagi kamu bertindak diluar batas, entah itu merusak atau memukul. Tidak ada kata 'tidak mau' kamu akan bu hana seret langsung ke kantor polisi. Mengerti"

Z terdiam saat aku dengan nada tegas menekankan hal itu. Waktu 1 bulan pun berlalu dengan Z. Sikapnya bagaimana kini? Alhamdulillah bersikap baik sekarang, Z tidak lagi bersuara kecil (seperti perempuan), Z sudah tidak teriak-teriak bila diperintah, Z sudah tidak memukul-mukul dirinya sendiri, Z sudah tidak merusak barang, Z sudah bisa bersikap baik ke ayah dan ibunya.

Ketika Z tidak mau menyebutkan nama ayahnya karna memang Z sangat marah sampai yang aku bilang, Z mengatai ayahnya dengan kata-kata kasar. Maka aku bilang kepada Z "oh...ayah kamu itu pak Selamet ya"

"Bukan"

"Terus ayah kamu itu siapa?"

"Tidak tau"

"Oh..ayah kamu itu Anjing ya? Kan kamu sering bilang 'ayah anjing' jadi ayah kamu anjing ya? Kamu berarti anak anjing ya?"

"Eh..bukan bu"

"Kalau begitu kamu anak siapa?"

"Aku anak pak sy*fr*l"

"Ah masa sih...kan kamu suka bilang ayah anjing, jadi kamu anaknya anjing kali"

"Bukan..aku anak pak sy*fr*l"

"Oh atau janga-jangan nama ayah kamu pak sy*fr*l anjing ya? Jadi nama kamu jg Z anjing donk"

"Bukan bu" dengan nada protes

"Kalau bukan ngapain kamu manggil ayah kaya begitu, anak itu akan mengikuti ayah ibunya Z, kalau anak anjing maka ayah ibunya ya anjing, kamu manusia atau anjing?"

"Manusia"

"Pantas gak kamu ngatain ayah kamu anjing?"

"Maaf bu hana"

"Lhoo..maafnya jangan sama aku, maaf sama ayah yang udah kamu katain. Udah ayah capek kerja biar kamu bisa sekolah bisa jadi anak pintar malah dikatain aneh-aneh begitu"

"Iyah...aku janji bakalan gak ngatain lagi"

"Oke...terima kasih janjinya. Kira2 kapan kamu mau minta maaf sama ayah?"

"Besok"

"Oke...kita buat janji bsk ketemu ayah dan kamu minta maaf. Disaksikan sm ibu dan bu hana ya"

" iya bu"

Begini sikap Z setelah kejadian itu, Z tak lagi ngotot dalam berbicara. Bisa didiskusikan dengan baik, tapi ego nya masih tetap ada hanya bisa dia kontrol sekarang.

Pertemuan dibuat dan Z meminta maaf kepada sang ayah dengan baik. Langsung berubah kah sikap Z? Jawabnya tidak langsung, perlu dua arah dalam hal ini, baik dari Z maupun dari ayahnya juga. Z sudah berbesar hati mau minta maaf dan sudah selayaknya ayahnya pun memaafkan dan berusaha mendekati Z secara persuasif dengan mengajak bercanda,mengobrol atau mengajak jalan.

Setiap anak sangat senang diperlakukan baik tentunya, namun bukan berarti harus selalu baik. Adakalanya bersikap tegas jika anak sudah melewati batas, bukan untuk orang lain tapi untuk kebaikan anak itu sendiri.

Perubahan bukan semata-mata ada pada diri anak tapi jg perubahan diri dari orangtua juga. Perubahan pola didik yang salah, perubahan pola asuh yang salah, mau tegas sedikit untuk menciptakan berdirinya aturan yang lugas.

Aku senang bekerjasama dengan kedua orangtua Z, mereka sangat kooperatif sekali. Mulai dari mau mengikuti arahanku dan mau berubah, merubah pola didik mereka kepada Z.

Jadi perubahan ini terjadi bukan semata oleh ku tapi juga oleh semua pihak😊 terima kasih sudah mau membaca kisah Z ini.













Selasa, 14 Februari 2017

Kisah Anak berkebutuhan khusus bernama T

Dering telpon bulan oktober mengenalkan saya dengan T. Seorang anak laki-laki berkebutuhan khusus berusia 21 tahun, tak banyak yang bisa saya gambarkan ketika percakapan berlangsung dengan sang kakak, janjipun dibuat agar saya bisa bertemu dengan T tapi GAGAL karena ternyata kakaknya bilang mereka tidak bs membawa T. sampai pada suatu ketika saya akhirnya menyempatkan diri berkunjung kerumah T, malam itu awal saya melihat langsung T serasa biasa saja tidak ada yang terlalu ekstrem namun memang sudah terlihat perilaku 'anehnya'
Melilitkan tangannya di kaos yang dia pakai kemudian dimasukan kedalam celananya dan mulai menyentuh-nyentuh orang lain atau bahkan dijilat olehnya, menyentuh orang dengan kakinya yang naik ke badan atau kepala. Melihat itu jujur saya kaget karna belum pernah melihat perilaku yang sampai seperti itu tapi hati kecil 'kasihan' dengan T dan saya yakin bahwa sikap itu masih bs diminimalisir nantinya. 

Keesokan harinya sayapun langsung menceritakan kepada 2 partner saya mengenai T. Sekedar hanya menyampaikan dan kitapun diskusi pada akhirnya mengenai T, panjang lebar mengenai program dan tujuan sekolahnya nanti kearah mana. 

Haripun berlalu sejak kejadian itu sampai pada titik dimana kakaknya mengabari saya hendak membawa T sekolah dan asrama mulai malam ini dan sayapun mengIYAkan karna kita sudah diskusi sebelumnya. 

Jam berganti sampai akhirnya pada malam akhir november T datang diantar oleh ibu dan 2 kakaknya, turun dari mobil T langsung masuk kedalam rumah kemudian kekamar sesampainya di dalam kamar T menjilat-jilat dirinya sendiri, benda maupun lantai kamar bahkan tembok, keluarganya berusaha menghentikan namun nihil perilaku itu terus menerus dilakukan tanpa henti, keluar dari kamar langsung menuju salah satu orang tua murid yang ada dengan melilit tangannya ke baju dan memsukan kedalam celana kemudian mengajak orangtua itu bersalaman dan sesekali mengajak bersalaman dengan kaki. Melihat perilaku itu saya masih biasa saja, tidak lama keluarganya pulang. 

T tidak bisa tidur 1 kamar dengan temannya yang lain karena efek perilaku yang 'jilat-jilat siapapun dan apapun' akhirnya saya berinisiatif T tidur dikamar lain seorang diri. Perjuangan tak semudah pikiran saya disaat saya meminta T naik kelatai 2 untuk pindah ke kamarnya sendiri, alih-alih T menurut malah T melotot ke arah saya dan sepanjang itu dia terus menjilat dan menjilat. Sampai T akhirnya ada hasrat untuk menjilat tas temannya, hal itu tentu saya hindari dan terpikir untuk menjadikannya alat agar T bisa naik ke atas dan berhasil membuat T naik keatas dengan T mengejar tas untuk memuaskan hasrat untuk menjilat tas. Bisa terbayang saya membawa tas di depan dengan sedikit berlari diikuti T yang mengejar untuk menjilat tas.

Malam itu, saya baru merasakan 'berat' dengan perilaku T. Baru kali ini saya mendapat anak yang sangat amat perilakunya dan kebiasaan 'anehnya'. Malam itu saya tidak bisa tidur memikirkan ternyata betapa berat perilakunya dan apa yang harus saya lakukan nanti untuk meminimalisir hal itu. Suara T terus terdengar menandakan bahwa dia pun tidak tidur, sebelumnya memang keluarganya bicara kesaya bahwa T biasa tidur di siang hari dan malamnya ia akan terjaga. Sampai dengan jam 5 pagi saya masih mendengar suaranya, akhirnya keputusan saya adalah membuka kamarnya dan meminta T untuk mandi. Kaget luar biasa ketika saya mendekati kamarnya tercium bau tidak sedap bahkan bisa dibilang sangat bau. Kekagetan saya tidak berhenti disitu ketika membuka pintu dan mendapati T dengan rutinitasnya jilat-jilat ini itu disekelilingnya berserakan kotoran dan juga air seninya sendiri. Kotoran itu bukan hanya menempel di lantai bahkan di tembok, kasur, bantal, selimut dan badannya sendiri terlebih mulutnya. 

Tidak mual kah saya melihat itu? Jawabannya tentu mual...tapi itu tantangan karna saya sudah mengiyakan. Bahkan semua orang yang ada dirumah itu tidak ada yang kuat mencium baunya, saya putuskan agar semuanya keluar dari rumah daripada banyak yang muntah. Membersihkan kotorannya juga butuh perjuangan luar biasa karna sudah 3-4 kali di cuci bahkan memakai karbol pun baunya tidak juga hilang. 

Astaghfirullah....
Malam-malam perjuangan dimulai dengan saya harus merelakan jam tidur saya untuk bangun lebih awal dan mengajak T untuk ke kamar mandi. Mau ataupun tidak ia pup atau pipis maka saya minta ia ke kamar mandi dengan jongkok di WC. Ini terus terjadi sampai akhirnya ia tidak lagi pup di celana, T tidak bisa jongkok awalnya jadi untuk membuat T mau jongkok pun butuh perjuangan juga dan ini yang membuat ia tidak suka berlama-lama di WC sambil selalu saya tekankan "mau beol ke mana?" T menjawab "ke kamar mandi".

Bahasa beol ini memang bahasa yang dibawa T sejak awal.

Jam tidur T keesokannya pun berubah, siang T sengaja saya tidak ijinkan tidur dan memang aktifitas di sekolah tidak ada jam tidur siang ditambah aktivitas motorik yang padat untuk T. Ini memang di design sengaja agar tenaga T tidak berlebihan, oh ya..saya lupa menceritakan kebiasaan makan T, dimalam kedua T di rumah keesokan paginya saya mendapati kue bolu coklat berserakan dikamarnya ketika saya cek ke dapur 1 loyang kue bolu pemberian salah satu orangtua murid habis dimakan T. Tidak hanya itu ketika makanpun T hampir menghabiskan nasi 1 magic com, air galon yang tanpa sadar 1hari dihabiskan oleh T hampir setengahnya.

Sadar akan hal itu konsep diet saya pakai disini. Bukan takut rugi tapi perilaku ini tidaklah wajar dan ketika T ada dimanapun tidaklah bisa diterima dengan perilaku nya yang demikian. Makan T mulai di atur seporsi selayaknya minumpun dibatasi selayaknya minum normal 12 gelas perhari.
T tidak lagi bisa seenaknya makan apapun dan sebanyak apapun, ini memang membuat T kehilangan berat badannya tapi ini saya lakukan semata untuk membuat T berprilaku selayaknya orang normal pada umumnya, toh T bukan kuli bangunan atau buruh kasar lainnya yang mengeluarkan tenaga sangat ekstra sehingga membutuhkan asupan yang luar biasa banyak juga. Makanpun kami berikan 3 kali sehari dan 1 kali snack juga disorenya tapi snack kampung seperti kue mangkok, singkong rebus dll. Tapi kenapa berat badannya tetap turun? Yang bisa menjelaskannya disini adalah seberapa banyak makannya sebelum disini dan apa saja kegiatannya? Jawabannya T makan sesuka hati semua dan sebanyak yang ia bisa makan tanpa ada kegiatan berarti selain jilat-jilat, lilit tangan ke baju dan celana.

Ingat sekali saya ketika hari pertama T dibawa dari rumah asrama ke sekolah dengan mobil didalam mobil T menjilati semua bagiannya dari mulai dashboard, kaca, kursi, rasanya hampir tidak ada satu bagianpun yang dilewati untuk dijilat, bahkan orang sekalipun. salah seorang guru mual melihat kelakuannya itu, sesampainya di sekolah T langsung dibawa ke kamar mandi untuk dimandikan karna efek bau pup nya yang belum juga hilang, sampai kita rasa sudah bersih karna sudah digosok berulang kali tetap saja masih ada bau yang tercium. Percobaan dimulai ketika pulang, T kita ajak jalan kaki ke rumah dari sekolah alhasil dijalan apapun T sentuh dengan tangannya bahkan menjilati jalannya terlebih kalau ia menyentuh orang yang lewat betapa terkejutnya orang itu dan mungkin akan mengira kalau T adalah orang yang tidak waras. Saya benar-benar dibuat gregetan oleh T akan sikapnya, mulai berpikir untuk memberikan T hal-hal yang pahit rasanya ketika ia menjilat apapun namun tidak berhasil bahkan yang kata orang sangat pahitpun saya berikan namun hasilnya nihil, T tetap jilat2. Berdasarkan info T tidak suka pisang dan telur saya pakai itu ketika jilat ia akan makan pisang atau telur hasilnya pun nihil dipaksa makan pisang/telur T mau dengan langsung ditelannya tidak dikunyah terlebih dahulu.

Memutar otak untuk bisa menghilangkan kebiasaan "jilatnya" akhirnya saya temukan ketika tidak sengaja saat ada karet gelang T langsung membuangnya. Karet gelangpun jadi alat untuk bisa menghentikan tingkah aneh T dengan saya takut-takuti mendekatkan karet gelang itu ke T tapi nihil juga. Akhirnya sikap ekstrem pun dipilh dengan menjepret lidah T ketika ia jilat-jilat, tentu para pembaca akan bergidik ngeri. Jalan ini pun saya pilih ketika memang jalan halus sudah kita tempuh dengen beberapa cara tapi nihil.
Ketika T jilat-jilat, maka saat itupun kita minta T menjulurkan lidahnya dan kita jepret pakai karet gelang 1x. Awalnya T dengan senang hati menjulurkan lidah tapi 2-3 kali dilakukan ketika T jilat-jilat, ia sadar akhirnya bahwa itu sakit dan tidak mau menjulurkan lidahnya, promp itu tetap kita berikan dengan memaksa memasukan tangan ke dalam mulutnya jika memang ia jilat-jilat. Tidak sampai 5 hari jilat-jilat T hilang walau dia ganti dengan perilaku lain 'menggesekkan giginya' tidak lagi mengeluarkan lidahnya tapi saya senang disitu. Yang terpenting T tidak menjilat-jilat dulu, promp demi promp diberikan kepada T untuk meminimalisir sikap negatif nya.

Walau terkesan kasar, misalnya T sering melilitkan tangan ke baju dan celana. Dengan sadar saya membuka baju T membiarkan T bertelanjang dada setiap kali T melilitkan tangannya ke bajunya, awalnya mudah tapi promp itu diberikan terus menerus dan konsisten akhirnya T sadar untuk tidak melilitkan tangannya ke baju. Memasukkan tangan ke celanapun saya lakukan promp dengan memakaikan T celana panjang dengan ikat pinggang selalu, tidak lagi celana pendek santainya, lama kelamaan kebiasaan ini terlupakan dan hilang.

Berbagai prompt dilakukan dari tahapan yang ringan naik ketahapan selanjutnya jika itu dirasa perlu. Bukan untuk menyiksa tapi untuk menghilangkan perilaku negatifnya.

Saat ini T masih disini, sekolah dan asrama. Sudah sempat di jenguk juga oleh keluarganya 2x, tanggapan keluarga senang melihat T tidak melakukan kebiasaan negatifnya. Skrg T lebih tenang, jilat, melilit baju, memasukan tangan ke celana, pup pipis dicelana, makan seperti orang kesurupan sudah tidak ada lagi.

Kini berganti T yang lucu dengan kata-katanya yang tak terduga, dengan sikapnya terhadap makanan yang masih sangat berminat namun bisa ditahan dengan mengucapkan "T mau minta biskuit" dan lainnya jika ia ingin sesuatu tidak lagi T yang selalu memakan apa saja, tak peduli itu makanan atau bukan, tak peduli itu punya dia atau bukan.

Awal dulu ketika T dibawa ada salah satu partner saya yang bilang "yakin bu merima T" kini partner saya pun "cepet yaa perkembangannya bu".

Beberapa orangtua murid yang meihat T dengan sikapnya yang sekarang sangatlah senang, karna mereka tahu betul T diawal seperti apa. Kini setiap harinya pun T jalan kaki dengan teman-temannya pergi dan pulang sekolah.

Tulisan ini bukam untuk memuji siapa dan menyudutkan siapa tapi terlebih saya ingin menekankan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk diraih selagi kita berusaha dan berdoa. Ini bisa diraih karna ijinNya dan kerja keras semua tim sekolah. Terlebih karena kepercayaan orangtua dan keluarganya juga, mereka sudah berbesar hati mempercayakan T kepada kami dengan penuh tidak setengah-setengah. Kerjasama inilah yang membuat semua berjalan baik dan T bisa berubah kearah yang lebih baik lagi. Perjalanan T masih panjang paling tidak saya sudah mengisi perjalanannya dengan meminimalisir perilaku buruknya.

Terima kasih

*tunggu kisah yang lainnya, saya akan bagi kepada anda di blog ini. Kisah T saya tutup disini yaa...yang mau melihat T langsung bisa juga😊

Minggu, 29 Januari 2017

BUKAN KAMI TAK SAYANG 

Marah...bukan karna kami tak sayang mereka
Menghukum...bukan karna kami membenci mereka 

Tapi 
Agar mereka memahami arti kehidupan yang sesungguhnya 
bahwa 
dalam hidup ada benar dan salah 
dalam hidup ada hukuman yang berlaku jika melakukan kesalahan 

sayang bukan berarti tidak menghukum 
sayang bukan berarti membiarkan ia melakukan apapun sebebas-bebasnya 
sayang bukan berarti selalu memuji walau Ia melakukan kesalahan

Bukan keras tapi tegas
Bukan kasar tapi memberitahu kebenaran

saatnya kita sadar 
bahwa 
rasa sayang yang dipupuk dengan demikian akan menjadi boomerang suatu saat 
yang akan menyerang diri kita sendiri

mereka bukan tak paham 
mereka bukan tak pintar 
mereka bukan robot 

layaknya mereka mendapat membelajaran yang sama tentang makna hidup 
yang salah dihukum 
yang benar dipuji 

saatnya mereka juga bisa berperilaku selayaknya kita pada umumnya dengan didikan kasih sayang yang benar dan tepat :) 

Selasa, 13 Desember 2016


Ghaisan Cendekia mengadakan program untuk mengisi liburan anak berkebutuhan khusus 

OriKem 
(Orientasi Kemandirian) 
pada tanggal 25 s/d 28 Desember 2016 
di
Taman Budaya Sentul-Bogor 

Kegiatannya antara lain : 
- Camping di ruang terbuka 
- Outbond
- Flying Fox
- Trecking 
- Eco Wisata ke Air Terjun BIdadari 
- Api unggun 
- menerbangkan Lampion 
- Belajar membuat Roti 
- Belajar Mencuci, memasak dan mandi serta bina diri dalam hal memahami bahaya


dengan dipandu oleh guru-guru yang berkompeten dibidangnya dan juga instruktur dari taman budaya akan menghadirkan kegiatan bermakna bagi putra-putri anda selama liburan. 

Biaya Rp. 900.000/pax

pendaftaran paling lambat tgl 20 desember 2016 

Cp. Hana 0878-8530-2533

Rabu, 27 Juli 2016

Cintai Mereka Tanpa Syarat

Dear para orang tua dari anak berkebutuhan khusus

ketahuilah mah...pah...bahwa anak kalian adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan dan kelebihan sama dengan anak lain pada umumnya. dan pribadi yang berbeda antara 1 individu dengan individu lainnya, jangan menyamakannya dengan anak lain, jangan menuntut apa yang ia tidak bisa lakukan dengan tergesa-gesa. mereka adalah makhluk pembelajar dan pengajar

mereka butuh waktu lebih lama untuk belajar, untuk memahami, untuk mengetahui segala hal 

berikan mereka waktu lebih...

namun mereka adalah guru yang baik untuk kalian para orang tua, mereka mengajarkan kita bahwa kesabaran itu tidak berbatas, mereka mengajarkan bahwa dibalik kekurangan pasti ada kelebihan yang dimiliki, dan mereka juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur terhadap apapun yang kita miliki. 

tidakkah kalian merasa bersalah, ketika kalian menuntut mereka dengan akademik yang hampir membuat mereka putus asa? 

malukah kalian menyekolahkan mereka ke SLB atau sekolah khusus? kenapa mah..pah? 

tanyakanlah kepada hati kalian sendiri mah...pah...sudahkah kalian menerima anak 'special' ini dengan hati yang ikhlas tanpa syarat????

belajarlah untuk mencintai mereka tanpa syarat :)